LULUNG. Jauh sebelum hiruk-pikuk Pilkada DKI Jakarta 2017, Abraham Lunggana alias Haji Lulung, punya lima ucapan tentang Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Dan boleh percaya boleh menyangkal, lima ucapan Lulung tentang Ahok, semuanya terbukti termasuk menang-tidaknya Ahok dalam Pilkada.
Tampak seperti ramalan yang tragis, tapi dokumen Badan Keamanan Nasional yang dibocorkan Edward Snowden, sejumlah wawancara yang dilengkapi dokumen internal tentara, kepolisian, dan intelijen, telah membenarkan soal ucapan Lulung yang terbukti “sakti” itu. Beberapa sumber bahkan menolak disebutkan namanya dan tidak bertanggungjawab atas bocornya laporan rahasia tentang ucapan Lulung yang mereka ketahui.
Apa saja ucapan Lulung tentang Ahok yang terbukti itu?
Pertama soal kegeraman Ahok terhadap hasil audit BPK, April tahun lalu. Dalam sebuah laporannya, lembaga auditor negara itu menemukan kejanggalan kasus pembelian sebagian lahan RS Sumber Waras dalam laporan keuangan Pemprov DKI Jakarta pada 2014. BPK menganggap prosedur pembelian sebagian lahan RS Sumber Waras menyalahi aturan dan merugikan keuangan daerah Rp 191 miliar.
Audit ulang atas laporan itu kembali dilakukan BPK atas permintaan KPK. Ahok juga diperiksa petugas KPK pada akhir November 2015, dan hasil audit investigasi itu diserahkan kepada KPK pada 7 Desember 2015.
Berdasarkan audit BPK itu, April tahun lalu, KPK kemudian memanggil Ahok untuk dimintai keterangan. Dia diperiksa selama 12 jam dan setelah diperiksa, Ahok menyebut BPK telah menyembunyikan kebenaran. Dia bahkan menyebut temuan BPK yang menyeretnya pada kasus dugaan korupsi pembelian lahan RS Sumber Waras sebagai temuan yang menipu.
Tapi, Ketua BPK, Harry Azhar Azis bergeming menyatakan, para auditornya profesional. Dia mempersilakan Ahok menggugat hasil audit BPK tetang pembelian lahan RS Sumber Waras ke pengadilan.
Memang sempat ada suara, Ahok akan menggugat BPK ke pengadilan, tapi kata Lulung, Ahok tidak akan berani menggugat BPK. “Saya yakin, Ahok enggak berani. Iris telinga saya kalau dia berani. Ahok itu pencitraan terus,” kata Lulung.
Menurut Lulung kalau Ahok berani menggugat hasil audit BPK kepada pengadilan, dia bersama relawannya akan mengantar Ahok. Lulung bahkan juga berjanji akan mengiris telinganya, apabila Ahok berani menggugat BPK. Dan Ahok memang tidak menggugat BPK yang menemukan dugaan korupsi pembelian RS Sumber Waras Rp 191 miliar. Kasus Sumber Waras kemudian menguap, tidak ada kelanjutannya di KPK.
Dua bulan berikutnya atau Juni 2016, Lulung kembali berjanji akan mengiris telinganya untuk Ahok, jika Ahok maju ke Pilkda DKI 2017 lewat jalur independen. "Saya mau iris ini kuping saya, kalau dia [Ahok] maju lewat independen."
Lulung bahkan memberikan tenggat waktu hingga pendaftaran calon gubernur ke KPUD selesai. "Waktunya selama pendaftaran, kalau dia mendaftar independen, saya potong nih sampai putus dua-duanya," kata Lulung sembari memegang kedua telinganya.
Di bulan Oktober 2015, Ahok menyatakan, akan menempuh jalur independen dengan segala risiko. “Sekarang saya sudah independen, akan melawan semuanya,” kata dia.
Pernyataan itu diulanginya pada Februari 2016 karena menurutnya, dia menghargai Teman Ahok yang berjuang setengah mati agar dirinya maju sebagai kandidat gubernur lewat jalur independen. Tapi empat bulan berikutnya, Ahok bilang “kiri-kanan mantap” menyusul munculnya dukungan partai untuk dirinya.
Puncaknya, Ahok menyatakan maju ke Pilkada DKI Jakarta 2017 dengan dukungan partai, dan ucapan Lulung bahwa Ahok tak akan maju lewat jalur independen menjadi kenyataan.
Di luar soal jalur independen, Lulung juga tak percaya Teman Ahok mampu mengumpulkan sejuta KTP untuk Ahok. Kata Lulung, pengumpulan sejuta KTP itu hanya propaganda dan retorika.
Teman Ahok dan juga Ahok, saat itu mendaku sudah mengumpulkan sejuta KTP agar Ahok maju ke Pilkada DKI Jakarta lewat jalur independen. Tapi beberapa orang meragukan pengakuan itu. Selain Lulung, anggota DPR dari Fraksi PDIP, Adian Napitulu, juga meragukannya.
"Mengumpulkan KTP dan memverifikasi KTP sendiri, itu sama seperti sebuah permainan yang dimainkan sendiri, disoraki sendiri, diwasiti sendiri lalu dipuji-puji sendiri dan terakhir ya tertawa bangga sendiri," kata Adian dalam sebuah pernyatan, saat itu.
Ucapan Lulung terbukti karena Teman Ahok tak pernah mendaftarkan pengumpulan sejuta KTP ke KPU DKI Jakarta untuk diverifikasi.
Jauh sebelum Ahok ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama karena menyitir Al Maidah ayat 51, Ahok sesumbar: siapa di antara mereka [Ahok dan Lulung] yang lebih dulu jadi tersangka. Dia menyatakan itu saat ramai kasus dugaan korupsi UPS 2015 diperbincangkan publik.
Ahok bertaruh dan menyebut Lulung bakal jadi tersangka dalam kasus itu. “Coba duluan mana nih Haji Lulung atau gua duluan yang jadi tersangka.”
Mendengar itu, Lulung mengaku hanya mengaminkan ucapkan Ahok. “Sekarang, terbukti, siapa yang jadi tersangka," kata Lulung, beberapa hari setelah Ahok ditetapkan sebagai tersangka penistaan agama.
Untuk Pilkada 2017, Lulung menyatakan, Ahok akan kalah, dan ucapanya terbukti setidaknya menurut hasil hitung cepat beberapa lembaga survei, kemarin.
Mengingat ucapan Lulung selalu terbukti, Edward Snowden memberikan disclaimer untuk setiap laporan intelijen tentang ucapan Lulung yang dimilikinya dan bocor ke publik dengan catatan “Jangan sebut nama gua ya” meskipun namanya tetap saja disebutkan oleh media.
Beberapa sumber yang menolak disebutkan namanya juga jeri menyebut nama Lulung. Empat dari mereka bahkan khawatir akan menjadi sasaran dari apa yang mereka sebut sebagai “ramalan” Lulung itu. di kutip dari akun facebook Dian Triasmaya Pamudji (26/04/2017-17:22 RB)

Tidak ada komentar